1/5/25

Hai. 

Sebenarnya aku hanya ingin bertanya. Tapi tak pernah benar-benar kutemukan ruang yang cukup nyaman untuk menitipkan pertanyaan ini. Jadi, kutulis saja di sini—biarlah semesta yang menyampaikannya padamu, bila kau masih bersedia mendengar, walau hanya sebentar. Meski kini, aku tak lagi menggantungkan apa pun pada jawabannya.

Aku ingin bertanya, 

Pernahkah sesekali... aku terlintas di benakmu? 

Bukan saat kau merasa sepi, bukan saat kau kehilangan arah. Tapi saat dadamu lapang, dan hidupmu tenang. Saat kamu menoleh ke belakang, dan mungkin mendapati jejakku masih tersisa samar di sana. Pernahkah suaraku muncul di sela keheningan—mengusik sedikit ingatanmu, tentang nada yang dulu sering memanggil namamu? Pernahkah terlintas caraku menunggumu pulang? Tanpa syarat, tanpa pamrih. Hanya karena waktu itu, aku mencintaimu sepenuhnya. Dulu, itu adalah bentuk cintaku. Kini, aku sudah tahu: cinta yang utuh pun bisa tak cukup, jika tak dijaga bersama.

Masihkah kamu mengingat janji-janji yang kamu ucapkan dulu? Janji yang kamu katakan dengan yakin, seolah waktu tak akan pernah mengubah apapun. Aku pernah menyimpannya seperti doa—yang tiap malam kupeluk erat. Tapi kini, aku tak lagi berdoa untuk yang sama. Bukan karena aku tak percaya, melainkan karena aku belajar: tak semua yang dijanjikan harus terus diyakini.

Pernahkah kamu merasa bersalah? Karena pernah menjanjikan langit tapi yang kau beri hanya rasa sakit? Pernahkah kamu, walau sebentar saja, menyesal? telah menjadikanku rumah, lalu pergi meninggalkannya dalam puing-puing yang tak sempat kau bersihkan? Tapi jangan khawatir. Rumah itu telah kutata ulang sendiri. Perlahan, tenang, meski sempat runtuh. Kini, aku tinggal di dalamnya lagi—dengan hati yang lebih kokoh dari sebelumnya.

Hei.

Aku tak tahu siapa kamu sekarang. Tak tahu siapa yang kau ajak bicara saat malam datang, siapa yang kamu genggam saat takut menghampiri. Tapi aku tahu, kamu pernah menjadi tempat yang paling aku percaya sebagai “selamanya”. Sampai akhirnya kamu sendiri yang menghapus kata itu dari semua hal yang pernah kita yakini.

Dan itu menyakitkan—saat itu.

Namun kini, aku tidak lagi terluka dengan cara yang sama. Aku masih menyimpan bekasnya, tapi tidak lagi berdarah.

Pernahkah kamu merindukanku?

Bukan karena kesepian, tapi karena kamu sadar, bahwa cinta seperti yang dulu kuberikan, dengan sepenuh hati tidak akan datang setiap waktu atau pernahkah kamu merasa kehilangan?

Atau sejak awal aku memang bukan sesuatu yang cukup berharga untuk kamu tangisi kepergiannya? Dulu aku sering bertanya itu dalam diam. Tapi sekarang... tidak sesering dulu. Sekarang aku tahu: ada kehilangan yang tidak perlu dipertanyakan, cukup diterima karena dari kehilangan itu, aku akhirnya menemukan kembali diriku sendiri. 

Dan mungkin, aku tidak berlebihan. Tidak juga sedang membuat drama seperti yang dulu mungkin kamu pikirkan. Aku hanya manusia yang pernah patah oleh cinta yang tak dijaga. Tapi sekarang, aku telah berdiri lagi. Lebih kuat. Lebih tahu arah.

Hei. 

Aku tidak menunggu.

Tidak juga menuntut penyesalan.

Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa sampai hari ini... aku masih berjalan. Luka itu mungkin belum benar-benar hilang, tapi aku tidak lagi terjebak di dalamnya. Jika suatu hari nanti, dalam langkah pulang atau tawa tanpa aku, kamu mencium wangi yang mengingatkanmu padaku—berhentilah sebentar saja. Bukan untuk mengenang, bukan untuk bersedih. Tapi untuk sekadar tahu: "dia pernah mencintaiku dengan sangat, dan kini... dia sudah baik-baik saja."

Karena aku masih di sini, melangkah.

Bukan tertatih seperti dulu, tapi perlahan dan pasti, menata serpihan menjadi utuh kembali. Membangun percaya dari dasar yang lebih dalam, meyakini bahwa hidup akan tetap indah meski pernah retak. Aku belajar tersenyum bukan untuk menyembunyikan sesak, tapi karena aku benar-benar mulai merasa lega. Aku belajar melangkah bukan karena terpaksa, tapi karena kini aku ingin melihat ke depan.

Tak ada yang benar-benar tahu seberapa berat prosesku.

Tapi hari ini, aku berdiri sebagai seseorang yang tetap layak dicintai dan lebih penting lagi, aku mencintai diriku sendiri... bahkan tanpa kamu.

Komentar

Postingan Populer