Secangkir Teh Hangat Untuk Kamu


Malam ini, tak ada yang lebih menawan ketimbang senyumannya. Dingin seakan-akan tak berani menembus sel kulit kami. Mata teduhnya, selalu bisa membuatku tenggelam begitu saja kala melihatnya. Deretan gigi putihnya membuatku sama menarik sudut-sudut bibirku. 

 "Kopi?" tawarku. 

Dia sejenak diam raut wajahnya nampak seperti sedang berpikir. Lantas, dia menoleh padaku sembari tersenyum, "Secangkir teh hangat sepertinya lebih melegakan".

Aku tertawa, dia juga ikut tertawa kecil. Aku pun mengangguk dan sesegera mungkin untuk membuatkannya teh hangat yang katanya lebih melegakan itu. Dengan senang hati aku menuangkan air ke dalam cangkir, lalu mengambil satu sachet teh lantas mencelupkannya. Dengan sesegera pula aku mengambil piring kecil, meletakkan secangkir teh hangat melegakan disana. 

"Ini, secangkir teh hangat untuk seseorang yang hangat pula. Sengaja aku enggak kasih gula, biar lebih lega." 

Lagi-lagi sudut bibirnya terangkat. Tangannya bergerak mengambil secangkir teh hangat itu, dia sangat terlihat teduh sekali saat menyesap tehnya. Sambil menatap ke depan dengan tanganku yang masih menggenggam secangkir teh hangat itu aku berkata, "Teh hangat untuk seseorang yang hangat. Terima kasih karena telah menerima apa adanya tentangku. Terima kasih telah menjadi jaket tebal disaat aku merasa kedinginan. Terima kasih telah menjadi genggam paling nyaman. Terima kasih telah hadir sebagai sorot cahaya paling terang dalam segala kegelapan. Dan, terima kasih karena telah merangkulku disaat semua orang menindasku."

Aku mengembuskan napas kemudian aku menoleh padanya. Dia sedang menatapku, lagi-lagi aku hanyut dalam mata teduhnya itu. Diletakkannya secangkir teh hangat itu, tangannya beralih memegang pundakku lalu membawanya pada bahunya. 

"Aku ingin selalu bersama kamu, selamanya." katanya sembari mengeratkan rangkulannya. 
 

Komentar

Postingan Populer