SEKALA

Sebuah cerita pendek untuk kisah kita yang panjang. 

"Yar! Ini novel yang aku cari, yey! Akhirnya ketemu juga," Alea tersenyum girang sesaat setelah ia menemukan novel incarannya. 

Isyar yang sedang melihat-lihat buku langsung menghampiri Alea, dilihatnya gadisnya itu tersenyum lebar kala menemukan novel incarannya. Gadis yang sudah menjadi kekasihnya lebih dari dua tahun. Isyar gemas, Isyar lantas mengambil novel itu lalu membawanya ke kasir.

"Aku yang bayar, ya." kata Isyar sembari mengeluarkan dompetnya lantas menoleh pada Alea yang sedang memberinya kekuatan. 

Senyuman Alea. 

Itu adalah sumber kekuatan bagi dirinya, bagi Isyar.

"Makasih lho, Yar." 

Isyar mengangguk lalu menanyakan pada sang kasir perihal harga dan Isyar segera membayarnya ketika sang kasir memberitahu nominalnya. Isyar lantas merangkul Alea, sembari berkata lirih Isyar bersuara,

"Lea, Boleh enggak aku seharian ini bareng sama kamu? Aku kangen banget soalnya, Lea." 

Alea terkekeh kecil, padahal Alea dan Isyar tidak habis LDR-an, tapi kenapa kali ini Isyar meminta Alea untuk bersamanya seharian, padahal tidak biasanya Isyar seperti itu. 

Alea pun mengangguk pelan, "Kayak habis LDR-an aja kamu, sayang. Oke, sekarang kita mau kemana, Yar?" 

"Mau ke surga." jawab Isyar asal yang disambut tamparan pelan di pipinya oleh Alea.

Alea berdecak, "Kalau ngomong dijaga, Isyar." 

Isyar tertawa kecil lalu tangannya bergerak pelan mengacak gemas rambut Alea, tanpa menanggapi ucapan Alea, Isyar dengan cepat menggenggam tangan Alea dan membawanya keluar dari Mall. 

Setelah sampai di basement, Alea dan Isyar langsung menuju mobil. Namun, suara panik Alea menghentikan langkah keduanya, "Ya ampun, Yar. Ponsel ku ketinggalan di Gramedia tadi, Yar. Aku tadi ngga sengaja sempat naruh ponselku di rak. Aku ambil dulu, ya." 

Alea berbalik badan, tetapi Isyar sudah mencegah Alea dengan membalikkan badan Alea, kini posisi keduanya saling berhadapan. 

"Aku aja yang ambil, ya? Kamu tunggu aja disini, Lea. Nanti kalau aku lama carinya, atau aku nggak balik, kamu cukup-" Isyar membawa tangan Alea lantas meletakkannya pada hati Alea. "Kamu cukup pegang hati kamu, disitu ada aku."

Kening Alea sukses berkerut, Isyar memang jago sekali menggombal. Namun, kali ini Isyar menggombal di saat yang tidak tepat, bisa-bisanya.

"Ih, Isyar! Jangan gombal mulu!" Alea berusaha menahan wajahnya agar tidak terlihat sedang menahan malu.

Isyar tersenyum, "Yaudah. Aku ambil ponsel kamu dulu, ya." 

Alea mengangguk dan tersenyum. Isyar sudah melangkahkan kakinya menuju gramedia untuk mengambil ponsel Alea. Tak butuh waktu lama, Isyar sudah berada di lantai 3 dan kini sedang melihat-lihat rak buku barangkali menemukan hape Alea. Benar saja, tepat di rak buku novel fiksi Isyar melihat benda pipih itu. Buru-buru Isyar mengambilnya, Isyar menatap ponsel Alea yang mana wallpaper nya menampilkan foto dirinya dan Alea yang sedang berpose menunjukkan wajah jelek masing-masing. 

Isyar tersenyum sembari mengetikkan sesuatu di ponsel Alea. Setelah itu, Isyar kembali ke basement.

"Ini, sayang, ponsel kamu." ujar Isyar sembari menyodorkan ponsel pada pemiliknya itu.

Alea tak bisa menyembunyikan senyumnya. Alea mengambil ponselnya lantas memeluk Isyar, erat. Bagi Alea, Isyar adalah malaikat tanpa sayapnya. Isyar balas memeluk Alea sembari mengecup puncak kepala Alea.

"Makasih banget, Yar. Aku sayang kamu," 

Isyar terkekeh lantas melepaskan pelukannya beralih menatap Alea dengan sudut bibir yang terangkat.

"Sama-sama, Lea." 

"Sebagai ucapan terimakasih, kali ini aku yang bawa mobil, ya!" kata Alea antusias.

"Berat dong kalau bawa mobil," goda Isyar.

Alea berdesis, "Maksud aku, aku yang nyupir mobilnya, sayang."

Isyar tertawa kecil lantas mengangguk. "Oke deh,"

Isyar dan Alea pun beranjak menaiki mobil. Meninggalkan basement Mall lantas melesat pergi entah kemana tujuannya setelah ini. Keduanya sama-sama belum memutuskan untuk pergi kemana. Hingga sepuluh menit yang sempat hening dalam perjalanan terpecahkan oleh suara lirih Isyar yang terdengar aneh di telinga Alea.

"Lea, maaf banget nih tadi aku pas ngambil ponsel kamu, aku ada tulis sesuatu disana, sayang. Nanti dibaca, ya, kalau sudah sampai rumah." 

Alea menoleh sebentar lantas kembali fokus mengendarai mobil, "Kenapa enggak boleh sekarang aja aku buka, Yar?"

Alea terkekeh, "Sekarang kamu sok misterius banget si."

Isyar mencubit pipi Alea sepersekian detik Isyar mengacak gemas rambut Alea. "Enggak boleh. Pokoknya itu aku tulis spesial banget buat kamu, Lea."

Alea menepis pelan tangan Isyar lantas mengembuskan napas panjang, Isyar memang hobi banget membuat rambutnya berantakan.

"Seneng banget sih ngacak-ngacak rambut aku. Kan jadi berantakan gini, Yar."

Isyar tertawa sesekali menjulurkan lidahnya, mengejek Alea. 

"Kenapa ya, aku punya pacar terlalu menggemaskan gini. Jadi enggak rela aku ninggalin,"

Lagi-lagi Alea heran akan semua ucapan Isyar, seakan-akan Isyar akan pergi jauh meninggalkannya. Alea menoleh sejenak lagi pada Isyar, "Ninggalin? Emang mau kemana kamu?" 

"Yee, bercanda kali. Masa iya aku mau ninggalin kamu?" 

Alea mengerucutkan bibirnya, "Ish! Tau ah! Aku gamau ya kalau kamu sampai beneran ninggalin aku"

Isyar tak menanggapi Alea, Alea sendiri juga sedang fokus mengendarai. Sepanjang perjalanan pikiran Alea tertuju pada sesuatu yang ditulis Isyar di ponselnya. Alea ingin sekali membukanya sekarang. Namun, mengingat suara yang terdengar memohon dari Isyar membuat Alea mengurungkan niatnya. Jadi, Alea memutuskan untuk membacanya nanti saja di rumah. 

"Yar, ini kita mau kemana?" tanya Alea, tetapi matanya masih terfokus pada jalanan.

Tak ada jawaban. Diliriknya Isyar yang malah sedang tertidur pulas, Alea mendengus, Isyar malah tidur. Alea lantas menepikan mobilnya dan berhenti.

Alea menggoyang-goyangkan tubuh Isyar, Isyar kalau disuruh bangun memang agak susah, kata Mamanya. Terbukti karena Isyar belum juga membangunkan diri.

"Isyar. Bangun. Kebo banget si!" 

Isyar masih betah memejamkan matanya. Alea geram, lagi, Alea menggoyang-goyangkan tubuh Isyar, kali ini agak sedikit kuat. Berharap Isyar dapat bangun.

Namun, melihat wajah pucat Isyar dan Isyar tidak bangun-bangun membuat Alea panik. Alea takut terjadi apa-apa dengan Isyar. 

"Yar! Jangan bercanda napa! Kamu mah bercanda mulu kerjaannya!" Alea berusaha untuk berpikir positif.

Masih tak ada jawaban. Tangan Alea yang semula memegang erat kemeja Isyar kini merosot begitu saja. Dengan pelan, Alea menggerakkan tangannya untuk memegang pergelangan tangan Isyar. Degup jantung Alea seakan-akan copot. Matanya mulai berkaca-kaca, Alea mendongak, menatap sendu pada wajah teduh nan pucat Isyar sepersekian detik Alea tak bisa menahan air matanya. 

"Yar,"

Alea merasakan sesak yang begitu dalam. Alea bahkan terus merapal doa bahwasanya ini adalah mimpi. Alea ingin segera bangun dari mimpinya. Mimpinya sama sekali tidak indah!

Alea menampar pipinya sendiri, "Ini mimpi pasti!"

Namun, setelah merasakan perih di pipinya. Alea menggeleng kuat, tangannya memukul-mukul dada bidang Isyar, "Enggak mungkin, Yar! Jangan tinggalin aku!" Teringat akan note yang ditulis Isyar di ponselnya. Alea segera merogoh tasnya lantas mengambil ponselnya dengan cepat Alea membuka aplikasi notes. Dan benar saja, disana ada catatan yang Isyar tulis segera Alea membukanya.


Teruntuk Alea

Terimakasih karena sudah jadi seseorang yang aku jadikan sebagai titik tumpu semangat aku. 

Maaf, Lea. Aku baru beritahu kamu, empat bulan lalu aku divonis mengidap penyakit gagal ginjal. Aku marah, Lea. Aku marah, kenapa Tuhan begitu banget sama aku? Aku ingin hidup lebih lama lagi. Aku ingin lebih banyak lagi membuat kenangan sama kamu. Aku ingin hidup lebih lama lagi, tetapi penyakit ini terus menggerogoti tubuh aku, melahapnya sampai hampir habis. 

Lea. Maaf kalau aku ninggalin kamu tiba-tiba tanpa aba-aba. Karena sebenarnya, aku juga gamau itu terjadi, Lea. Lea. Pacar aku yang gemas, jangan sedih berkepanjangan kalau misalnya aku tiba-tiba ninggalin kamu karena dengan kamu sedih lama-lama itu hanya akan buat aku lebih sakit disini, Lea. 

Terimakasih karena telah hadir dalam hidup aku yang gulita, Lea. Terimakasih sudah menjadi sebuah pelita. Tanpa kamu, aku enggak mungkin bertahan sejauh ini. Lea. Ada pertemuan ada juga perpisahan. Namun, aku harap, kita dapat bertemu lagi di atas langit yang penuh dengan kesyahduan, karena disana kita abadi. Kita tak akan terpisah lagi. 

Lea, boleh aku minta sesuatu sama kamu? Mumpung kamu lagi baca note yang aku tulis ini? 

Senyum, Lea. 

Karena senyuman kamu, adalah bahagianya aku. 


Dengan penuh cinta,


Isyar ❤️

Komentar

Postingan Populer