HIRAP ATMA
Aku tau rasa ini sudah terlampau jauh lebih dari apa yang aku kira. Semesta sangat apik merencanakan pada siapa cinta ini akan bertandang, dihati siapa perasaan ini akan bersemayam. Dibalik rasa pertemanan, aku harus memendam rasa. Mulutku seakan terbungkam, seluruh asaku seakan hilang hanya untuk sekedar ucap perasaan.
Andai aku bisa sebegitu mudahnya atau andai dalam sekejap saja aku bisa menghilangkan perasaan ini, aku ingin melakukannya. Namun, setiap kali aku ingin melakukannya, semesta seolah sedang berusaha menahanku. Entah apa tujuannya, entah karena ingin semakin melihat aku terkesan menyedihkan karena hanya mampu memendam rasa atau ingin kamu membalas perasaan ini juga?
Tapi, itu tidak mungkin bukan?
Kamu saja masih selalu asik menceritakan seseorang yang kamu sebut kekasih itu dihadapanku. Meminta pendapat tentang kado apa yang pas untuk kekasihmu saat dia berulang tahun. Tentang bagaimana caranya agar kekasihmu membaik saat dia marah padamu. Kamu bahkan masih terus meminta saran padaku tentang apa-apa yang berkaitan dengan kekasihmu.
Jadi, tidak mungkin 'kan kalau kamu juga punya perasaan sama sepertiku?
Dan, anehnya lagi aku masih selalu menjadikanmu orang terfavoritku. Kamu bak malaikat tak bersayap. Perhatianmu selalu membuatku merasa nyaman dan merasa terlindungi. Senyum dan tawamu yang menggemaskan adalah patok semangatku. Genggam tangan yang erat, dekap peluk yang hangat seakan membuatku lupa bahwasanya kita hanya sebatas teman. Iya, sebatas teman.
09 Agustus 20.

Komentar
Posting Komentar