RAHSA LAKUNA

Pada hadir yang terasa sunyi. Pada senyum yang terlihat hambar. Pada anggap yang terasa abai. Sesenang itukah kau bermain-main pada kalbu yang meminta untuk dipahami. Untuk setiap nestapa, berkali-kali aku memahami. Pada setiap rindu yang menggebu, berkali-kali kau seolah menghindariku. Kita ada, tetapi seolah tak pernah ada. Kita hidup dalam ingar-bingar, tetapi hanya sepi terkesan mendominasi. Kita ada ditengah-tengah hiruk-pikuk, tetapi juga tak pernah menghadapinya bersama. 

Aku dengan segala ketulusanku. Namun, kau dengan segala keegoisanmu. Butuh berapa kali lagi agar aku terlihat dan terbukti bahwasanya aku sudah paling mengerti. Butuh berapa ribu detik lagi agar aku dapat menjadi penghuni tetap dalam hatimu. Butuh berapa tetes air mata lagi agar aku semakin ditarik masuk ke dalam relung hatimu. 

Anehnya lagi, aku seolah dungu dan tidak tahu harus kemana lagi mencari jalan keluar dari labirin rumitmu itu. Aku semakin terasa sedang diperbodoh karena terus saja mempertahankan orang yang salah. Aku ingin sekali keluar, aku ingin sekali berontak. Berulang kali aku memutar elegi, berulang kali aku terperosok, terluka lagi. Berulang kali kamu menebaskan pedang tepat di hati, berulang kali aku berdarah lagi, berulang kali aku tetap mencintaimu lagi.



28 Agustus 20.

Komentar

Postingan Populer