Untuk Cerita Yang Tak Pernah Kuanggap Usai.



Sudah kubilang, aku terjerumus. Sudah kubilang, aku tidak bisa menghapus bayang-bayangmu. Sudah kubilang aku mencintaimu hingga rasanya untuk mengikhlaskanmu saja aku masih kesusahan benar-benar kesusahan.

Beribu-ribu andai selalu aku ucapkan, "Andai dulu aku tidak pernah mengenalmu". Dan beribu-ribu kemungkinan selalu terputar di pikiranku, "Mungkin aku sudah bisa melangkah lebar tanpa dibayang-bayangi olehmu." 

Bagaimana ini? Sampai detik dimana aku masih bisa bernapas hari ini pun bayangmu masih tak pernah lepas dari seluruh sudut pandanganku. Kenangan itu masih terpatri dalam setiap sudut ingatanku. Genggaman tanganmu masih terasa hangat di setiap sudut jariku. 

Tolong. Aku kehilangan segala cara. Bagaimana pun cara yang telah kulakukan untuk sekadar mengikhlaskan dirimu, terasa sangat sulit hingga pada akhirnya yang ada hanya aku yang kembali terduduk lesu di dalam lubang ini. Tolong jelaskan padaku, bagaimana cara paling ampuh untuk melupakan serta mengikhlaskanmu? Cepat. Katakan padaku. 

Berulang kali aku berkata kepada diriku sendiri bahwasanya kamu memang telah benar-benar pergi, kamu memang telah benar-benar hilang dan kamu memang telah benar-benar berhasil menemukan seseorang yang kini kamu anggap kekasih itu. Namun, pada kenyataannya, apa yang sering aku ucapkan itu, sama sekali tidak pernah bisa membantu agar aku bisa perlahan-lahan mengikhlaskanmu, yang ada hanyalah sebuah rasa dimana aku ingin sekali memulai kembali kebersamaan kita. Lalu, menjelajahi kota-kota yang tak sempat kita datangi kala itu, kemudian memperbanyak potret-potret kita berdua dan hal-hal lain yang dulu pernah kita impikan, tetapi tak sempat kita wujudkan, yang ada hanya itu, hanya itu.

Kisah kita memang terasa sangat singkat, tetapi apa yang telah terjadi pada waktu sesingkat itulah yang selalu menjadi alasan kenapa aku belum bisa untuk mengikhlaskan sosok dirimu. 

Nala.

Ijinkan aku untuk bertanya kembali. Bagaimana ini, la?

Mungkin bagimu semua tentangku sudah hancur tak bersisa. Mungkin bagimu semua tentang kita hanyalah angin lalu. Namun, bagiku kita tak pernah usai, tak pernah mati dan tak pernah asing.

Bohong jika aku berkata aku mampu mengikhlaskanmu. Aku hanya berpura-pura untuk terlihat baik-baik saja tanpa dirimu. Aku mengandalkan topengku. Mungkin aku yang kau lihat kini terlihat baik-baik saja namun pada kenyataannya tak pernah begitu. Dalam kesendirian aku merindukanmu, Nala.

Nala,

Mari bertemu lantas katakan dan yakinkan aku bahwa kita memang telah usai. Dengan begitu aku akan menyadari semua realita menyakitkan ini, La.

Komentar

Postingan Populer