Harapan itu berusaha membunuhku.
Aku adalah salah satu orang yang percaya dengan kata-kata, "Manusia itu datang dan pergi."
Aku sangat percaya betul dengan kata-kata itu. Sebab aku pernah dan akan terus mengalaminya. Namun, yang bahkan aku saja benci dengan sifatku ini adalah aku selalu menaruh ekspektasi berlebihan terhadap orang yang datang padaku. Seakan semua makna yang kuambil dari orang-orang yang telah pergi dari hidupku, hilang dihembuskan angin. Aku lupa. Lalu aku menaruh harapan besar itu pada orang-orang yang datang dan menjadi dekat denganku lagi.
"Aku yakin, kita akan selamanya seperti ini."
Bahkan setelah mengucapkan hal itu, aku sadar. Aku sadar bahwa apa yang aku katakan tidak akan pernah terjadi dalam hidupku. Alih-alih menyudahi ekspektasi seperti itu, aku malah menjadi lebih liar untuk berekspektasi. Meski berulang kali sadar bahwa harap yang kubuat sendiri ini akan menemui ujung bernama patah hati. Namun, aku yang berkepala batu ini menolak untuk diajak kerjasama dengan kesadaran itu. Aku kembali meyakinkan diriku sendiri bahwa kali ini harapanku tidak akan melesat.
Tetapi, perlahan demi perlahan. Harapan itu semakin terasa menghujam diriku. Menampar diriku dengan kerasnya tanpa berakhir dengan kata maaf. Memukulku berkali-kali sampai rasanya untuk kembali berdiri pun aku sudah tidak bisa. Hal itu terjadi kembali. Harapan yang kubuat sendiri sedang berusaha membunuhku. Aku bahkan tidak bisa untuk sekadar berlari menghindari itu, yang ada aku hanya bisa diam sembari menahan sakit yang terulang lagi.
Aku kehilangan sosok orang yang selalu bisa membuat aku merasa bahagia. Aku kehilangan orang yang dulu selalu ada disaat suka dan dukanya aku. Aku kehilangan orang yang bisa aku ajak untuk membicarakan banyak hal, sekalipun hal-hal yang tidak jelas. Aku kehilangan dia. Harapanku terhapus karena kami tiba-tiba menjadi sangat asing. Untuk sekadar menyapa saja rasanya sudah tidak mungkin.
Aku kembali menyadari bahwa hukum alam sedang menghukum ku. Aku kembali menyadari bahwa, mungkin waktu ku untuk dia sudah habis. Begitupun waktu dia untuk aku sudah habis.
Tapi...
Kenapa harus sekarang? Aku bahkan belum siap dan belum bisa untuk menerima semua kenyataan ini. Aku masih ingin banyak berbagi banyak hal sama dia. Aku masih ingin bertemu dan melakukan banyak hal seperti apa yang dulu aku dan dia impikan. Aku benar-benar belum bisa terbiasa dengan ketidakhadiran dia dihidup aku.
Aku merindukan dia. Sangat.

Komentar
Posting Komentar