Hujan, teh hangat dan tanda titik atas tanda tanya.

pepohonan menari ditengah-tengah hujan, bunga-bunga berjatuhan riak-riak air sungai. lama sekali dipandang-pandang penuh kesan. sebentar mengambil jeda menatap langit hitam pekat di atas sana. perih dihati mengingat kembali sepasang kaki berubah pergi, meski kenyataannya yang paling berdarah adalah kebersamaan kita yang kau hadirkan seorang lagi di dalamnya. 

dulu sekali, kau pernah bilang, "aku nggak akan mencari kamu yang lain." persis diantara rerumputan, disaksikan daun-daun berjatuhan, juga gemerlap lampu-lampu jalanan.  

saat ini ia yang kau bawa disela-sela senja, yang kamu dekap tubuhnya kala lelah menyapa, menjaganya sepenuh jiwa bak ia begitu berharga. yang bahkan aku tidak ingat apa pernah aku diperlakukan serupa? 

yang terjadi hanya tentang aku mengemis-ngemis minta diperhatikan, merajuk ingin ditemani untuk sekadar menatap aliran sungai bahkan memelas ribuan jam memaksamu menari bersama diantara hujan.

sesederhana itu padahal, tetapi kamu selalu enggan. 

benar katamu, "aku nggak akan mencari kamu yang lain." karena yang seperti aku tak mengasyikan bagimu. dan ada satu hal yang ingin sekali ku ketahui jawabnya. 

yaitu, sebenarnya siapa yang paling kamu cintai diantara kami, Randi? 

apakah suara rintik hujan menghalangimu untuk menjawab tanda tanya itu? baiklah, mari meneduh terlebih dahulu, mari meminum teh manis hangat-hangat kuku, barangkali kamu memang membutuhkan tenang lebih dulu. aku sesekali mencuri pandang, melihat mata teduhmu yang terlihat sangat menikmati teh hangat tersebut. sungguh, bagaimana bisa mata se-meneduhkan itu kau bagi untuk orang lain, Randi? 

selepas meminum teh hangat itu, kamu melepaskan jaketmu lalu dengan lembut kamu memakaikan itu padaku. aku hanya mampu terdiam, sedang pikiranku berisik kembali, mempertanyakan kenapa sikapmu harus seperti ini? kenapa sikapmu harus se-enggak jelas ini, Randi? 

hujan semakin deras, ia seakan tahu dan ingin mewakili apa yang sedang aku rasakan kali ini. kemudian kamu memegang kedua bahuku dengan sangat lembut, ah setelah sekian lama aku merasakan itu kembali. kamu menatapku, pun aku balik menatapmu. rasanya aku ingin menghentikan waktu untuk saat ini sebab aku rindu, aku rindu tatapanmu itu. 

kamu masih terdiam sambil terus menatapku, entah apa yang sedang kamu pikirkan dan entah apa yang akan kamu ucapkan sebagai tanda titik atas pertanyaanku itu. aku menanti, Randi. ayo cepat katakan saja. 

kamu menurunkan tanganmu dari bahuku, aku terperanjat. nyatanya memang aku tidak akan pernah bisa untuk menghentikan waktu bahkan hanya untuk sesaat saja. Kamu lantas berdiri, kemudian kamu memelukku sambil berucap, maaf, aku pergi.


//tulisan ini berkolaborasi dengan Fatimah, teman Smpku.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer