Ikan kecil milik Naiya [1]

 

Terik matahari terasa sangat menyengat siang hari ini, membuat Naiya terus merasa haus. Naiya kemudian merogoh tumblr minum miliknya yang ia simpan di totebag nya, diteguknya air putih itu dengan sedikit cepat. Sungguh sangat menyebalkan bagi Naiya apabila ada jadwal kuliah siang hari, baginya kuliah pagi lebih membuatnya bersemangat ketimbang harus berangkat siang dengan cuaca yang bikin gerah. Naiya berjalan malas menuju kelas, perjalanan ke kelas membutuhkan waktu sekitar lima menitan karena kelas Naiya berada di lantai tiga dan itu harus melewati sekitar dua puluh anak tangga jika digabungkan dari dua lantai.

Setelah menempuh perjalanan lima menit itu, akhirnya Naiya sampai juga di ruang kelas yang memiliki dua buah AC ini, ya Naiya tidak munafik bahwa dia patut bersyukur juga karena dengan adanya AC itu setidaknya Naiya sekarang merasa lebih sejuk.

“Naiya!” suara cempreng milik Jana bergema di ruangan kelas saat ketika Jana baru melihat Naiya memasuki kelas.

Naiya meletakkan totebag di kursinya, “Suara lo, Jana. Kedengeran noh sampe ruang dekanat.”

Kalau ditanya siapa yang suaranya paling keras dan cempreng di kelasnya, ya Naiya yakin semua anak kelas akan menunjuk Jana. Cewe berlesung pipi itu bahkan sudah sangat dihafal oleh dosen ataupun kating karena suaranya yang khas itu.

Naiya mengeluarkan binder polos bersampulkan warna biru beserta pena tinta hitam miliknya. Dilihatnya dosen sudah datang, kebetulan hari ini ada jadwal presentasi kelompok, kelompok Naiya sendiri untungnya sudah maju presentasi minggu kemarin. Saat sedang menyimak dengan fokus kelompok yang presentasi di depan, tiba-tiba saja Naiya  dikagetkan dengan sosok laki-laki disampingnya.

“Naiya, nanti mau main dulu, enggak?” ucapnya dengan sangat pelan, mungkin dia was-was suaranya akan terdengar oleh dosen.

Dia Nabastala atau yang sering dipanggil Tala, laki-laki dengan perawakan tubuh tinggi, kulitnya putih dan mempunyai rambut model mullet yang kini sedang ramai di kalangan orang-orang. Naiya mengenalnya tentu sejak Naiya masuk kuliah, waktu itu juga Naiya dan Tala satu kelompok ospek fakultas dan jurusan. Dan sejak saat itulah, Naiya dan Tala berpacaran.

“Mau” Jawab Naiya sembari tersenyum lebar.

“Aku mau ajak kamu ke suatu tempat.” kata Tala sambil mengelus lembut kepala Naiya. Dan itu berhasil membuat Naiya salah tingkah.

Naiya penasaran lantas bertanya, “Mau kemana?”

“Nanti aku kasih tahu kalau sudah di tempat.”

Naiya mendesis, “Kalau kayak gitu ya enggak usah ngasih tahu dong. Kalau kamu ngasih tahunya sudah di tempat, ya itu artinya aku sudah tahu.”

Tala yang melihat pacarnya berlaku seperti itu malah makin gemas dibuatnya, Tala kadang dibuat bertanya-tanya bagaimana bisa dia mempunyai seorang pacar se-cantik, se-lucu dan se-gemas Naiya. Tala benar-benar dibuat beruntung karena bisa memiliki Naiya disaat Naiya banyak yang ingin memilikinya.

“Ya nggak apa-apa.” Tala menimpali.

“Kamu tuh benar-benar buat aku pengen tak hih kamu tau enggak!” ujar Naiya sembari mengepalkan kedua tangannya dan membuat ekspresi geram yang ia tunjukan pada Tala.

“Udah, udah. Aku nggak takut kamu kepalin tangan kayak gitu, kamu tuh kalau kayak gitu bukannya kelihatan galak tapi malah makin gemas, sayang.”

Mendengar ujaran Tala barusan membuat Naiya memutar bola matanya malas, bukan, bukan sebab Naiya sedang benar-benar kesal pada Tala. Namun, Naiya sejujurnya sedang berusaha untuk tidak salah tingkah di depan Tala.

“Apa sih. Udah fokus-fokus dengerin yang lagi presentasi di depan.” Naiya mengalihkan pembicaraan.

  ***

Toko yang mempunyai tembok berwarna biru laut itu membuat Naiya sukses mengernyitkan keningnya, Tala membawanya ke tempat penjualan ikan. Sejak tadi Naiya menanyakan kenapa Tala membawanya kesini, akan tetapi Tala hanya tersenyum terus-terusan tanpa mau menjawab pertanyaannya. Naiya mengikuti jejak Tala yang membawanya mengelili akuarium yang di dalamnya terdapat ikan-ikan cantik mulai dari yang sangat kecil sampai yang sangat besar semua ada disini.  

Tala berhenti lantas berbalik badan menghadap Naiya, “Kamu mau ikan yang mana?’ tanyanya.

“Hah? Aku harus banget nih pilih ikannya?” tanya Naiya memastikan.

Tala mengangguk-angguk, “Iya, sayangku. Gih pilih mana yang kamu suka, nanti kita beli.”

Naiya kemudian melihat-lihat kembali ikan-ikan yang ada di akuarium, menurut Naiya semuanya terlihat sangat cantik dan lucu. Naiya sempat kebingungan untuk beberapa menit, sampai pada akhirnya matanya tertuju pada satu ikan kecil berwarna putih bercampur merah, yaitu ikan koki oranda.

Naiya menunjuk ikan tersebut lantas berujar, “Aku mau yang ini, sayang. Lucu banget.”

Tala tertawa gemas melihat tingkah menggemaskan pacarnya ini, Tala lantas mengacak-acak rambut Naiya, “Jangan gemas-gemas, tolong. Kamu tahu sendiri, aku lemah kalau kamu bertingkah gemas kayak gitu, sayang.”

“Ish. Rambutku jadi berantakan tahu!”

Tala terkekeh, “Gapapa. Sini aku berantakin lagi, mau?”

“Ya Tuhan, kenapa sih aku punya pacar ngeselin kayak kamu?” ujar Naiya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ya Tuhan, kenapa sih Naiya kok mau sama aku yang ngeselin ini.” Tala menimpali ujaran Naiya lantas mengejek Naiya dengan menjulurkan lidahnya.

“Yaya, ya karena Tala itu beda sama yang lain. Tala ngeselin tapi aku-“

Belum sempat Naiya melanjutkan perkataannya, Tala sudah lebih dulu menimpalinya, “Sayang sama Tala, benar kan?”

“Benar.”

Tala tersenyum.

“Kamu senyum-senyum mulu kayak orang gila.” ceplos Naiya kemudian memperhatikan kembali ikan yang dihadapannya.  

Tala yang mendengar ucapan Naiya tertawa sedikit keras lalu berkata, “Berarti kamu pacaran sama orang gila dong? Kok mau?”

Naiya walaupun sedang asik melihat betapa cantiknya ikan koki oranda, Naiya menanggapi pertanyaan Tala, “Kan udah aku bilang tadi, aku sayang sama kamu.”

Lagi-lagi Tala dibuat terkekeh karena ujaran Naiya, Tala lantas memanggil Penjual ikan tersebut dan memberitahunya bahwa ia akan membeli ikan koki oranda. Penjual itu pun mengangguk kepalanya lalu segera menyaring ikan tersebut lantas memasukkan ke dalam akurium berukuran kecil.

“Ini mas, ikannya.”

Tala menerima ikan tersebut kemudian menyodorkan uangnya sambil berujar, “Terima kasih, Pak.”

Nggih, sama-sama, mas.”

Tala dan Naiya kemudian pergi keluar dari toko ikan tersebut, Naiya terus melihat ikan yang ia bawa, sungguh ikannya terlalu cantik dan lucu. Saat sedang asik melihat ikan, Naiya teringat akan pertanyaannya yang belum dijawab oleh Tala. Pertanyaaan kenapa Tala membawa dan membelikannya ikan.

“Tala, kamu belum kasih tahu aku kenapa kamu bawa aku kesini?” Naiya langsung menanyakannya.

“Sebelum aku jawab, kasih nama dulu ikannya, dong.”

Naiya mengembuskan napasnya pelan, lagi-lagi Naiya disuruh mikir oleh Tala

“Kamu suka banget nyuruh aku mikir, deh. Aku tuh lagi malas mikir, lagi malas nyari ide. Mending kamu aja yang ngasih namanya, aku terima dengan senang hati apa pun nama yang mau kamu kasih sama ikan ini.”

“Aku punya satu nama buat ikan itu, sayang.” ujar Tala.

“Nah, good. Coba apa?”

“Namanya, Pawpaw.”

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan Populer