Di sana, butuh doaku dari sini.

rasanya sudah lama aku tak menjenguk tempat tulisan-tulisanku bernaung. aku sudah lama tak menulis sesuatu, kalau dibilang sibuk, ya, enggak juga sih. cuma ya memang ada beberapa hal yang aku rasa, aku tak punya gairah untuk menulis di tempat ini lagi. aku menyelami kembali tulisan-tulisanku di sini. ah, rasanya terlalu rindu. aku suka baik buruknya tulisanku. aku suka tulisanku sudah lebih berkembang ketimbang pertama kali aku lahirkan dan aku tempatkan tulisan-tulisanku di sini. 

aku ingin bilang, sekali lagi. aku merindukan tulisanku. aku merindukan ide dan semua pikiran yang bisa kutempatkan di sini. sudah lama. aku tak menulis. hal-hal yang terjadi di hidupku kemarin menjadikanku manusia yang tak berdaya. kehilangan yang bersembunyi di belakang kata "takdir" membuatku harus belajar lagi. belajar ikhlas, belajar kuat, belajar bangkit. awalnya dan lamanya, aku tak pernah benar-benar berusaha belajar mengerti itu semua karena menurutku, aku masih perlu berduka dan bukan perlu belajar.

akhirnya, butuh waktu sedikit lama untuk aku merasa aku memang perlu belajar, meskipun sedikit demi sedikit. enggak ada yang salah sama rasa duka yang kualami kemarin bahkan sampai detik ini. aku selalu merasa, apakah perasaanku atas duka kehilangan terlalu berlebihan? tapi, setelah aku membaca sebuah kutipan yang kurang lebih tertulis "ketika ditanyakan sampai kapan mereka akan berduka, mereka mungkin akan menjawab, selama yang kami bisa. tidak sedih, tidak menangis, hanya berduka." ternyata, perasaan dukaku adalah hal yang wajar dan aku akan tetap selamanya berduka.  

akan selamanya berduka bukan berarti aku tidak belajar perihal ikhlas lagi. aku juga tetap mempelajari itu. sebab menurutku, ikhlas adalah bab kehidupan yang akan terus menyertaiku, menyertai semua manusia. tiap harinya, aku belajar ikhlas. sungguh. rasa sakit atas kehilangan kemarin dan duka hari ini akan terus berlanjut. tapi aku yakin, mama tak pernah benar-benar hilang dari hidupku. raganya memang sudah tak pernah kulihat lagi, namun aku percaya di atas sana dan di sudut manapun, mama akan memandangku. entah saat aku tersenyum, menangis, tertawa, atau saat aku bicara sendirian dengan batu nisannya. aku percaya mama ada dan karena itu, aku ingin terus belajar.

tapi tentu, proses belajar itu enggak selalu mudah, kan? itu yang kualami. beberapa orang selalu bilang, "harus ikhlas, harus iklas, sudah takdir." aku sempat dan sepertinya akan selalu merasa marah saat omongan itu terdengar di telingaku. bagi sebagian orang, mereka menganggap belajar ikhlas adalah hal mudah dan terkadang terkesan menggampangkan. tapi bagi manusia-manusia berduka sepertiku, ikhlas hanyalah omong kosong yang tak benar-benar terisi. aku rasanya ingin marah. mama, jantung dan jiwaku menjadi diam, pucat, tak menjawab panggilanku lagi, tak mengomeliku lagi. apakah aku harus ikhlas? kata ikhlas menjadi beberapa pertanyaan yang terus menghantuiku.

"siapa yang mampu memeluk segalaku, sehangat mama?" 

"kenapa enggak ada yang ngajarin gimana caranya hidup setelah kehilangan mama?"

"mama seyakin itu ya, aku bisa kuat tanpa kehadirannya?"

dan, masih banyak lagi.

perlahan, aku mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sendiri. tak langsung, tak mudah, tak tuntas. tapi dari hari ke hari, aku coba mengerti bahwa ikhlas bukan tentang melupakan, bukan pula soal berhenti bersedih. ikhlas adalah berdamai dengan kenyataan yang tak bisa kuubah dan menerima bahwa kehilangan ini akan selalu menjadi bagian dari hidupku. setiap harinya, aku mencoba mengikhlaskan dengan caraku sendiri — kadang dengan tangis, kadang lewat diam panjang, kadang dengan mengulang kenangan-kenangan kecil yang membuatku tersenyum. prosesnya lambat, tapi aku tahu, tak apa-apa. aku belajar bahwa tak ada batas waktu untuk belajar ikhlas, dan tak ada ukuran yang bisa menentukan seberapa jauh aku sudah berusaha. aku tak harus selalu tegar, tapi aku perlu tetap melangkah, meski dengan mata yang kadang masih basah. aku belajar ikhlas dengan menangisi kehilangan itu berkali-kali. 

aku kuat sampai detik ini bukan karena aku tak lagi rapuh, tapi karena aku tahu, mama butuh doaku dari sini. aku tahu, aku harus tetap hidup dengan baik, agar doa-doaku bisa sampai dengan tulus dan utuh untuknya di sana. aku ingin membuat mama bangga, bukan hanya dengan pencapaianku, tapi juga dengan bagaimana aku bertahan. aku ingin saat mama melihatku dari kejauhan, ia tahu bahwa anaknya tak menyerah. bahwa meski kehilangan itu telah mengubah segalanya, aku tetap berusaha menjadi versi terbaik dari diriku dan kalau aku bisa sampai sejauh ini, itu semua karena cinta mama masih terasa, membekas, dan menuntunku dalam setiap langkah.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer