Tepian yang Pernah Ditunggu

sumber: pinterest.com

Hujan sore itu turun perlahan, seperti seseorang yang ragu untuk menumpahkan seluruh air matanya. Dari jendela kamar kosnya, Leya menatap garis-garis air yang menyeret bayangannya sendiri. Ruangan itu sunyi, tapi tidak pernah benar-benar tenang. Di sela-sela hening, ada nama yang masih bersuara dalam ingatannya. Nama yang dulu sederhana, kini berubah menjadi beban yang tidak pernah ia minta.

Isyad.

Delapan bulan berlalu sejak hubungan mereka runtuh dan waktu terasa seperti tali karet yang ditarik terlalu jauh: lentur, tapi menyisakan bekas perih setiap kali kembali ke posisi semula. Leya tidak menghitung hari; ia hanya menghitung hembusan napas yang masih terasa sesak. Ia tidak membenci Isyad. Dan justru itu masalahnya.

---

Beberapa malam lalu, ketika udara terasa berat dan pikirannya sulit diam, Leya membuka media sosial, kebiasaan buruk yang selalu ia sesali setelahnya. Ia hanya ingin memastikan bahwa dunia di luar dirinya masih berjalan. Tapi dunia yang ia lihat malam itu justru berhenti di satu titik. Di layar ponsel, sebuah foto muncul: Isyad duduk di sebuah warung kopi pinggir jalan. Wajahnya lebih rileks dari apa pun yang pernah Leya lihat belakangan ini dan di sampingnya, ada seorang perempuan dengan senyum yang hangat. Tidak berlebihan. Tidak dibuat-buat.

Keterangan foto itu hanya sekadar emotikon love putih. 

Jari Leya berhenti di layar. Napasnya patah di tengah jalan. Tidak ada yang pecah di ruangan malam itu. Tidak ada benda jatuh, tidak ada suara keras. Tapi sesuatu di dalam dirinya retak dengan sunyi yang menyakitkan. Ia menatap foto itu lama. Sampai matanya panas, sampai ia tak lagi yakin apakah ia ingin marah, atau justru ingin dipeluk seseorang.

Foto itu kecil, tapi efeknya memukul dirinya terlalu besar.

---
Beberapa hari setelahnya, pukulan kedua datang.

Leya baru pulang dari kampus ketika suara motor mendekat dari arah belakang. Langkahnya melambat karena suara itu terdengar akrab bahkan terlalu akrab. Ketika ia menoleh, dunia seperti berhenti bergerak. Isyad melintas di atas motor putihnya. Tubuhnya sedikit membungkuk ke depan, seperti sedang berbicara pada seseorang di belakang.

Ya. Seseorang itu adalah perempuan dalam foto.

Perempuan itu tertawa, memegang jaket Isyad dengan santai, sementara Isyad menanggapi enteng, suara mereka bercampur dengan angin siang itu. Ada sebentuk kebahagiaan yang tidak ia temukan dalam hubungan terakhir mereka. Ada cara Isyad menoleh ke perempuan itu, ringan, nyaman, dan hidup yang dulu tidak pernah ia sadari adalah hal yang ia rindukan.

Motor itu berlalu.
Senyuman di wajah mereka berlalu.
Tawa mereka berlalu.

Tapi Leya tetap berdiri di tempat yang sama dan untuk beberapa detik, ia hampir yakin bahwa paru-parunya lupa cara bekerja. Ia mencoba melangkah. Namun langkah pertama selalu yang paling sulit. Ia menahan napas dan meski tidak ada air mata jatuh, dadanya terasa lebih penuh dari hujan yang mengguyur kota sore harinya.

---
Beberapa minggu berlalu dengan irama yang berat.
Leya mencoba mengalihkan diri, kuliah, membaca, menulis sedikit, tapi ada malam-malam ketika tubuhnya hanya ingin diam, ingin dibiarkan hampa. Di dalam buku catatannya, ia menulis:

 Ada kehilangan yang tidak meninggalkan ruang kosong. Ia hanya mengganti isinya dengan sesak yang tidak mau pergi.

Dan ia merasa kalimat itu terlalu jujur.

---
Suatu sore yang lembap, ketika Leya merasa sudah cukup kuat untuk keluar dan membeli keperluannya sendiri, langit tampak terhalang awan. Ia berjalan pelan ke minimarket dekat kos. Bukan tempat istimewa, tapi cukup aman. Sampai suara itu muncul.

"Ley?"

Suara itu menembus udara dengan cara yang mengembalikan seluruh berat yang ingin ia tinggalkan.
Leya menoleh.

Isyad berdiri di ambang pintu. Jaket hitamnya masih sama. Rambutnya sedikit lebih panjang. Mata itu—mata yang pernah sangat ia hafal, menatapnya dengan cara yang membuat lututnya sedikit gemetar.

“Oh… hai,” Leya berkata pelan, hampir tidak terdengar.

Isyad tersenyum kecil. Senyum yang tidak ia tahu apakah itu bentuk rasa bersalah, rindu, atau hanya sopan santun.

"Kamu apa kabar?" tanyanya.

Pertanyaan sederhana itu menampar lebih keras dari yang seharusnya karena bagaimana mungkin seseorang menjelaskan bahwa ia baik, tapi hatinya tidak? Bahwa ia tersenyum, tapi dadanya sesak?
Bahwa ia melangkah, tapi pikirannya tertinggal di tempat yang tidak lagi bisa ia datangi?

"Aku… baik," kata Leya.
Kata “baik” itu retak, tapi hanya ia yang mendengarnya.

Isyad mengangguk, tapi matanya mencari sesuatu. Mungkin kepastian bahwa Leya benar-benar baik. Mungkin sekadar sisa rasa ingin tahu. Atau mungkin… kebiasaan lama yang belum hilang.

Leya merasa telinganya berdenging.
Ada jarak satu meter antara mereka, tapi yang membentang rasanya seperti jurang dan tepat ketika ia hendak menata napas, Isyad melakukan sesuatu yang membuat semuanya runtuh lebih dalam.

Ponsel berkedip di tangan Isyad, dan nama perempuan itu muncul jelas di layarnya. Notifikasi kecil.
Foto profil yang sama dan nama yang sama.

Rasanya seperti melihat pintu tertutup tepat di depan wajahnya.

Leya memalingkan pandangan, mencoba berpura-pura tidak melihat, tapi dadanya terjepit begitu kuat sampai ia ingin membungkuk.

“Ley…” suara Isyad melembut, seolah menangkap perubahan kecil di wajahnya, “Maaf kalau… kalau semua ini bikin kamu—”

“Ga apa-apa.”
Jawabannya keluar cepat, terlalu cepat, seperti seseorang yang terburu-buru menutup luka agar tidak dilihat.

Isyad terdiam.

Keheningan itu terasa seperti ruang sempit yang tak berpintu.

“Ya udah,” kata Leya akhirnya. “Aku duluan.”

Ia berjalan melewati Isyad tanpa menoleh, berusaha agar langkahnya tetap stabil. Tapi detik pertama setelah punggungnya membelakangi Isyad, napasnya pecah. Dadanya terasa berat, seolah ada yang menariknya kembali pada tempat yang ia tahu sudah tidak bisa ia tinggali.

Ia tidak menangis. Tidak di sana.
Tapi seluruh tubuhnya bergetar, bukan karena dingin, melainkan karena ia menahan sesuatu yang terlalu penuh untuk ditampung.

Di luar minimarket, ia berhenti. Menekan telapak tangan ke dada, mencoba menghentikan sesak yang merayap dari dalam. Kepalanya menunduk. Hawa di sekitarnya hilang.

Dan untuk pertama kalinya sejak putus dengan Isyad, ia benar-benar merasa ingin jatuh.

---
Malam itu, hujan turun lebih keras dari sebelumnya. Leya duduk di tepi ranjang, menatap buku catatannya yang terbuka. Kata-kata yang pernah ia tulis tampak seperti luka-luka kecil yang berbaris, semuanya meminta perhatian.

Ia mengambil pena, dan menulis:

Aku kira bertemu akan membuatku siap.
Tapi ternyata aku hanya sedang baik pada permukaan.
Sementara kedalamanku masih penuh bayangan yang belum mau pergi.

Ia berhenti, menutup mata.

Hujan di luar begitu bising, tetapi suara dadanya lebih bising lagi. Ia mengerti sesuatu malam itu, sesuatu yang pahit tapi jujur:

Bahwa ia belum selesai.
Belum pulih.
Belum bisa melepaskan.

Dan ia tidak harus memaksa.

Tidak semua orang bisa sembuh setelah melihat kenyataan.
Beberapa justru semakin tenggelam sebelum akhirnya belajar mengapung lagi.

Leya menarik napas panjang.
Air matanya jatuh juga akhirny, tidak deras, tapi cukup untuk membuat sesak di dadanya sedikit melemah.

Pelan-pelan, ia memeluk dirinya sendiri.

Di balik kaca jendela, hujan terus turun.
Dan untuk malam itu, ia membiarkan semua rasa terjadi.
Tanpa menolak.
Tanpa menenangkan diri secara paksa.

Sebab mungkin itulah langkah pertama menuju sembuh: Mengakui bahwa ia masih sakit.

---
Malam itu, setelah tubuh mereka saling menyentuh udara yang sama dan waktu mengantar mereka pada jeda yang canggung, Leya pulang tanpa benar–benar merasa pulang. Langkahnya menapak trotoar seperti menginjak permukaan air, tak pernah benar-benar menyentuh dasar. Semua baris kata yang tadi sempat ditahan pecah dalam diam, menyisakan sisa-sisa kehangatan yang tak semestinya masih memerangkap.

Ia pikir melihat Isyad dari dekat akan membuat hatinya mengerti bahwa segalanya telah selesai. Bahwa wajah itu, yang dulu meneduhkan, kini hanyalah halaman lama yang tak perlu dibaca ulang. Tapi ternyata, semakin jelas ia melihat, semakin kabur batas antara yang pernah dan yang seharusnya ia tinggalkan. Bahkan jarak sepanjang lengan pun terasa terlalu dekat untuk hati yang masih rawan pecah.

Dan justru kedekatan itulah yang membuat sesak itu menguat, pelan, tapi pasti karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama Leya benar-benar bisa menatap kedua mata Isyad tanpa halangan apa pun, ia melihat sesuatu yang tak lagi tertuju kepadanya. Ada ketenangan lain di sana, cahaya lain yang tak pernah lagi memantul di tubuhnya. Sesuatu yang dulu ia yakini miliknya kini telah berpindah arah, entah sejak kapan, entah pada siapa, tapi tentu bukan padanya.

Itu, meski tanpa suara—adalah perpisahan paling lantang yang pernah ia dengar.

---
Sesampainya di kamar, Leya duduk di ujung ranjang seperti seseorang yang kehabisan nama untuk melabeli perasaannya sendiri. Ia membuka jendela, berharap angin bisa mengurai sesak yang masih tertinggal di dada. Tapi angin malam hanya membawa kembali bayangan Isyad yang berdiri di bawah lampu jalan, dengan tatapan yang tak lagi menyimpan dirinya.

Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Kadang, yang paling menyakitkan bukanlah ditinggalkan—melainkan menyadari bahwa kita sudah tidak ada di dalam seseorang yang masih kita simpan seutuhnya.

Sejak malam itu, segala hal terasa bergeser sedikit. Tidak dramatis, tidak pula drastis, hanya bergeser dengan cara halus yang membuat Leya tak bisa marah. Ia bangun setiap pagi dengan dada yang berat tapi cukup ringan untuk tetap menjalani hari. Ia belajar menyesuaikan langkahnya dengan kenyataan bahwa beberapa hal memang tidak ditakdirkan untuk bertahan. Namun, rasa sesak itu tidak pergi. Ia hanya berpindah tempat, dari dada ke tenggorokan, dari tenggorokan ke mata, lalu kembali lagi ke dada. Seolah mencari ruang yang paling pas untuk menyiksa tanpa benar-benar melukai.

---
Suatu sore, ketika hujan turun rapi seperti garis-garis di buku tugas masa kecil, Leya kembali melihat unggahan Isyad tanpa sengaja, dari seseorang yang me-repost foto pasangan itu. Tampak Isyad tertawa, menunduk sedikit pada seorang perempuan yang memeluk lengan kirinya. Tawa itu, cara menunduknya, bahkan celah kecil di sudut bibirnya, semuanya masih sama. Yang berbeda hanyalah kepada siapa itu diarahkan.

Rasanya seperti berdiri terlalu dekat dengan api yang dulu menghangatkan, lalu tersadar bahwa ia bukan lagi bagian dari ruang lingkup nyalanya.

Ia mematikan ponselnya.
Menarik napas.
Percuma.
Dada tetap sesak.

Kadang ia berpikir, mungkin perasaan yang tak kunjung selesai ini tentang cinta dan rindu pada versi dirinya yang dulu, yang pernah dicintai, pernah dianggap cukup, pernah menjadi tujuan dalam seseorang.

Dan setelah itu hilang, ia seperti kehilangan bayangannya sendiri.

---
Malamnya, Leya menulis panjang di buku catatan kecilnya, tempat ia biasa menyimpan hal-hal yang terlalu rapuh untuk dikatakan lantang. 

Ternyata pertemuan itu bukan obat. Ternyata melihatmu bahagia tidak otomatis membuatku ikhlas. Aku masih belajar, tapi hatiku belum lulus apa pun.

Ia berhenti menulis.
Memandang jendela yang memantulkan wajahnya sendiri, pucat, letih, tapi tidak kalah. Ia sadar, ia belum benar-benar siap untuk melepaskan. Tapi ia juga tahu, ia tidak bisa selamanya berada di titik yang sama.

Karena hari terus berjalan.
Karena detik terus melaju.
Karena orang yang ia cintai sudah memilih jalan yang tidak lagi mengarah padanya dan Leya, meski hatinya masih terseret ke belakang, harus belajar berjalan ke depan—meski pelan, terseok, atau bahkan sambil menangis.

---
Beberapa pekan berlalu, dan perasaan itu tidak hilang. Tapi bentuknya berubah. Tidak lagi seperti ombak besar yang datang menghantam dada, lebih seperti riak kecil yang datang tiba-tiba, hanya untuk mengingatkan bahwa ia pernah mencintai seseorang dengan sepenuh dirinya.

Kadang ia masih sesak. Masih teringat cara Isyad tertawa. Masih terbayang bagaimana perempuan itu memeluknya di atas motor. Masih terngiang momen ketika mata mereka bertemu sebentar, menyisakan perih yang sulit dijelaskan. Namun, sesak itu kini tidak lagi menenggelamkannya sepenuhnya.

Leya mulai menyadari bahwa kehilangan tidak selalu harus dilawan.
Terkadang, ia hanya perlu diberi tempat kecil untuk tinggal, sampai suatu hari ia bosan dan pergi sendiri.

Malam itu, ia menutup buku catatannya. Membuka jendela. Membiarkan angin masuk, angin yang berbeda dari malam ketika ia bertemu Isyad. Angin yang tak membawa wajah siapa pun, tak membawa kenangan apa pun. Hanya udara, bebas, kosong, dan pelan-pelan memberi ruang di dadanya.

Ia tidak tahu kapan benar-benar akan sembuh.
Tidak tahu kapan sesak itu akan berhenti sepenuhnya.
Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa mungkin, meski belum sekarang, ia akan bisa berdamai dengan semuanya.

Karena meski pertemuan itu membuat dadanya semakin sesak, itu juga membuktikan satu hal:

Bahwa ia tidak lagi berada di dalam cerita Isyad dan bahwa ia, pada akhirnya, harus mulai menulis ceritanya sendiri.


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer